KRI NANGGALA: TUMBAL KEKUASAAN BODOH DAN ZALIM
KRI NANGGALA:
TUMBAL
KEKUASAAN BODOH DAN ZALIM
Oleh: Ahmad
Khozinudin (Sastrawan Politik)
SABTU, 24 April 2021 penulis membaca artikel Prof. Daniel
Mohammad Rosyid. Beliau adalah ahlinya ahli kapal, ahli maritim, bukan ahli
kaleng-kaleng kelasnya Mbah Ndul. Prof. Daniel M. Rosyid adalah Founder
sekaligus Owner Rosyid College of Arts and Maritime Studies.
Nama dan gelar lengkap beliau adalah Prof. Daniel M. Rosyid, Ph.D, M. RINA.
Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 2 Juli 1961, adalah seorang Guru Besar
Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Penulis pernah beberapa kali berdiskusi dengan beliau, bahkan sempat menikmati
hidangan pecel nikmat dengan sejumlah tokoh di Surabaya, saat mengadakan
diskusi di kantor Rosyid College of Arts and Maritime Studies, di Gunung Anyar.
Yang menarik, tulisan Prof. Daniel tidak saja mengulik aspek saintis
khususnya berdasarkan kepakaran beliau di bidang kemaritiman dan perkapalan
untuk menjelaskan kausalitas tenggelamnya KRI 402 Nanggala milik TNI AL. Tetapi
penalaran yang bersifat metafisika, yakni adanya kemungkinan 53 awak kapal KRI
Nanggala memang sengaja dijadikan tumbal oleh pihak tertentu bagi raja demit
Laut Selatan.
Hal tersebut sejalan dengan terjadinya berbagai rangkaian gempa dan topan
Seroja di Pulau Jawa hingga Timor sebagai bagian dari rings of fire.
Analisisnya, banyak info yang beredar bahwa akhir-akhir ini banyak siluman yang
bergentayangan lepas dari kurungannya dari pedalaman laut Selatan sejak zaman
Nabi Sulaiman AS. Percaya? Monggo saja. Tidak juga tak apa.
Tapi analisis satir kedua ini, seolah-olah ingin mengkonfirmasi bagaimana
kekuasaan hari ini selain tidak dijalankan dengan panduan sains (IPTEK), juga
mengabaikannya basis agama sebagai dasar yang paling asasi dalam mengelola
kekuasaan.
Benar atau tidak, rumor yang beredar kekuasaan dijalankan atas petunjuk DUKUN,
bukan petunjuk WAHYU.
Namun, penulis jadi teringat hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ
وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا
الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ
الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ. (رواه ابن ماجة)
“Dari
Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang tahun-tahun
penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang
jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur
dikhianati, dan Ruwaibidhah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah
al-ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan
perkara umum.” *** (H.R. Ibnu Majah).
Orang bodoh (Ruwaibidhah) yang mengurus urusan publik, bisa didefinisikan
sebagai orang yang menjalankan kekuasaan tanpa ilmu, baik ilmu syar'i (agama)
maupun ilmu sains. Kenyataan, kekuasaan yang dijalankan oleh rezim dapat
dikualifikasikan jenis ini.
Tidak syar'i, karena banyak menentang hukum Allah SWT. Dari soal investasi
miras, mempersoalkan seragam sekolah yang menutup aurat, mengkriminalisasi
ulama, mengkriminalisasi ajaran Islam Khilafah, hingga membubarkan ormas Islam.
Tidak saintis, terlihat dari kebijakan yang kalau difikirkan secara seksama
menyelisihi akal sehat. Misalnya, menolak lockdown saat awal pandemi,
menerapkan PSBB tetapi TKA China dibiarkan masuk, melarang mudik tapi
membolehkan pulang kampung, melarang mudik tapi membuka pariwisata, hingga
mempersoalkan kumpul-kumpul Maulid Nabi Muhammad SAW tetapi membiarkan bahkan
hadir di acara pernikahan artis.
Dalam kasus KRI 402 Nanggala nampak sekali aspek saintis tidak diperhatikan,
seperti adanya “technical error”. Sebagaimana dijelaskan oleh Prof.
Daniel Muhammad Rosyid. Ini bukan soal teknis semata, patut diduga ada
kezaliman dalam masalah teknis saintis ini. Misalnya, kita patut menduga
adanya pengabaian masalah maintenance kapal, tidak dialokasikan anggaran
maintenance, atau bahkan korupsi anggaran sehingga hal penting ini tidak
diperhatikan.
Belum lagi, prioritas kebijakan yang tidak dibangun berdasarkan perencanaan
yang matang, hanya sibuk mencari 'WAH' untuk parodi pesta kejumawan. Sebut
saja, divestasi tol Medan - Kualanamu - Tebing Tinggi hanya senilai Rp 824
miliar. Padahal, biaya investasinya Rp. 4,7 Triliun.
Di mana letak saintis dalam model pengelolaan tol semacam ini? Untuk apa
uang dihambur-hamburkan seperti ini? Bukankah lebih urgen untuk biaya
maintenance kapal?
Kembali ke soal KRI 402 Nanggala. Tenggelamnya kapal dan 53 awaknya dapat
disimpulkan adalah tumbal dari rezim bodoh, rezim zalim, rezim ruwaibidhoh.
Kekuasaan yang bodoh, tak memperhatikan rambu agama dan rambu saintis, yang
kekuasaan itu menyebabkan celaka seluruh rakyatnya. ***

Comments