WASPADA CHINA KOMUNIS DAN BANGKITNYA PKI

CHINA dewasa ini termasuk satu satunya negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia yang berideologi Komunisme. Sebelumnya termasuk Rusia. Namun setelah modernisasi negara beruang merah iini yang dilakukan Mikhail Gorbachev, dengan program glasnot (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi), negara Komunis ini berubah menjadi negara demokrasi. Negara-negara bagian yang sebelumnya dijajah dan dikuasai mereka, memisahkan diri dan membentuk negara masing masing. Diantaranya berdiri negara negara berpenduduk mayoritas Muslim, seperti Uzbyekistan, Ajeberziyan, Turkmenistan, Kirgistan, Tajikistan dan Kazakhstan.

Berbeda dengan China, kekuasaan Komunisme belum mengalami perubahan kecuali di bidang ekonomi. Ideologinya tetap Komunisme. Yaitu sejak partainya berdiri tahun 1924. Pada tahun 1949 berkembang menjadi kekuataan yang berhasil merebut kekuasaan dan mengusir pemerintahan nasionalis Kuomintang (KMT) dari daratan Tiongkok. Sejak itu Partai Komunis China (PKC) berkuasa hingga saat ini. Kaum Nasionalis mendirikan negara di Taiwan, sebuah pulau yang awalnya masuk pemerintahan Tiongkok. Namun dalam perkembangan terakhir, pemerintah Komunis China terus berusaha merebut Taiwan agar masuk wilayah Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Dalam sejarah Partai Komunis di Indonesia (PKI) berdiri tahun 1914. Pendirinya Henk Sneevliet asal Belanda. Namun dalam perjalanannya beberapa kali melakukan pemberontakan yang syah. Terhadap pemerintah Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI), sebanyak dua kali. Yakni pada tahun 1948 PKI melakukan pemberontakan di Madiun. Penggeraknya Muso, tokoh PKI pro Moscow, Uni Soeviet. Pada saat negari itu masih berideologi Komunisme. Lalu pada tahun 30 September 1965 PKI kembali melakukan pemberontakan. Pemimpin sentralnya Aidit, yang pro Peking, sekarang Beijing, China. Inilah benang merah hubungan PKI dengan Negara Komunis China, yang dikuasai PKC.

Pemberontakan PKI tahun 1965 telah mengakibatkan partainya dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang. Sebagaimana ditegaskan dalam Kepuusan Mejelis Permusyawaratan Rakyat Sementera Republik Indonesia (MPRS-RI) dengan nomor ketetapan XXV/MPRS/1966 Tahun 1966. Pemimpin, tokoh dan anggota anggotanya yang terlibat dalam pemberontakan Gerakan 30 September 1965 (G30S) PKI ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru, Maluku. Kecuali Aidit, Ketua PKI, yang berhasil ditembak mati karena melarikan diri. Kawan-kawannya, yang menjadi pemeran utama, dihukum mati.

Seperti halnya pembentontakan PKI di Madiuan tahun 1948, dalam kudeta G30S PKI yang gagal juga berhasil ditumpas oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama rakyat. Setelah peristiwa pemberontakan Madiun, ternyata ideologi Komunisme tetap hidup. Ini terbukti, menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 1955, PKI bangkit kembali dan berhasil duduk di Parlemen. PKI meraih peringkat keempat dan Pemilu setelah Partai Islam Masyumi, Partai Nasional Indonesia (PNI), Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).

Perkembangan berikutnya PKI menjadi kekuatan besar pada tahuan 1960-1965, sehingga berhasil mempengaruhi Soekarno sebagai Presiden. Diantaranya membuat Soekarno pada tahun 1961 membubarkan Masyumi, sebagai partai yang sangat anti Komunisme, dan organisasi pendukungnya, Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Namun kini telah berdiri kembali. Bahkan PKI berusaha untuk menggulingkan pemerintah Soekarno dengan menyusup ke dalam kekuasaan dan istananya. Apalagi PKI saat itu mendapatkan dukungan dari PKC. Sebagaimana diketahui, pada saat Soekarno sakit, dokter dokter yang menanganinya berasal dari negeri China tersebut.

Namun rencana kudeta dan pemberontakan PKI 1965 berhasil digagalkan. TNI bekerja sama dengan rakyat yang bergabung dalam front Pancasila anti Komunisme, terutama aktifitas gerakan Islam berhasil menumpas PKI hingga ke desa-desa. Apalagi yang menjadi sasaran pembantaian PKI adalah ulama dan tokoh tokoh Islam. Bahkan di kampung kampung setiap tokoh Islam, ustadz, mu’alim, kyai, ajengan, telah disiapkan lubang untuk penguburannya apabila PKI berhasil dan berkuasa. Namun hanya pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, rencana PKI gagal direalisasikan.

Akhirnya PKI berhasil ditumpas sampai ke akar akarnya. Indonesia kembali dalam keadaan aman dan damai. Namun nasib ummat islam yang pada awalnya berhubungan mesra dengan pemerintahan Soeharto, akhirnya dimarzinalkan. Pemimpin dan tokoh tokoh Islam menjadi bulan bulanan pemerintah. Diantaranya, mereka yang bersikap kritis terhadap pemerintah ditangkap dan diadili, hingga masuk penjara. Tokoh tokoh yang di luar penjara dipasung kebebasannya. Mereka tidak dapat bepergian ke luar negeri, termasuk yang dialami M. Natsir. Beliau salah satu penanda tangan Petisi 50, yang melakukan kritik kepada pemerintah yang dipandang otoriter, karena memaksakan kehendak, membungkam kritik dan kebebasan berpendapat.

Soeharto berkuasa selama 30 tahun lebih. Pengusaha China diberikan hak istimewa untuk menjalankan bisnisnya, hanya mereka dibatasi kebebasan berpolitiknya. Mereka berhasil menguasai perekonomian Indonesia. Mereka menjadi kekuatan tersendiri. Apalagi secara kultural mereka masih memiliki hubungan erat dengan leluhurnya di China. Hal ini yang menjadi pintu masuk pengaruh China di Indonesia. Setelah Soeharto berhasil digulingkan, lalu masuk era reformasi, peran mereka semakin besar. Dalam beberapa kali pemerintahan yang berkuasa di Indonesia, pengaruh mereka bukan hanya di bidang ekonomi dan perdagangan, melainkan juga merambah ke bidang politik dan kekuasaan.

Memang era reformasi telah membawa perubahan di berbagai bidang. Namun perubahan yang terbesar adalah di bidang hukum dan politik. Undang Undang Dasar (UUD) 1945 di amandemen. Pasal pasalnya mengalami beberapa perubahan. Salah satu perubahan berkaitan dengan sistem kepartaian dan lain lain. Partai tumbuh dan bekermbang bagaikan cendawan di musim hujan. PNI yang berubah menjadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjadi kekuatan baru dalam sistem politik dan kekuasaan di Indonesia. Dalam beberapa kali Pemilu di era reformasi PDIP berhasil meraih kemenangan.

Hanya memang dalam Pemilihan Presiden tahun 2004, calon dari PDIP dapat dikalahkan oleh calon koalisasi Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) dan Partai Demokrat. SBY terpilih sebagai presiden dua periode, 2004-2009, 2009-2014. Namun setelah SBY, pada Pemilu 2014, PDIP berhasil meraih kemenangan di Parlemen. Namun dalam Pilpres 2014, PDIP tidak mencalonkan Megawati sebagai capres. PDIP mengusung Jokowi sebagai capres dan Jusuf Kalla (JK) sebagai wakilnya. Dalam pilpres kali ini PDIP berhasil memenangkan calonnya sebagai Presiden RI dan terlibat dalam mengendalikan kekuasaan.

Sejak Pemilu 1999 di era reformasi, generasi penerus PKI, terutama anak dan cucu-cucunya masuk dan aktif berpolitik melalui PDIP. Seperti Ribka Ciptaning, mengaku berterus terang sebagai anak PKI. Ia terpilih menjadi anggota DPR RI melalui PDIP sejak Pemilu 2004 hingga Pemilu 2019. Dia terpilih dari Daerah Pemilihan Jabar IV, Cianjur dan Sukabumi. Dia dipercaya sebagai Ketua Plt (Pelaksana Tugas) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PDIP Propinsi Banten. Cucu tokoh PKI, diantaranya Oneng atau nama lengkapnya Rieke Diyah Pitaloka. Dia mulai terjun ke dalam bidang politik melalui PDIP dan terpilih menjadi anggota DPR RI sejak Pemilu 2009. Dia pernah diusung PDIP sebagai calon Gubernur Jabar bersama Teten Masduki sebagai wakilnya.  Namun dia kalah suaranya dengan Ahmad Heryawan dari PKS.



Terpilihnya Jokowi yang masih berdarah China dari ayahnya, kemudian ada yang mengaitkan juga sebagai keturunan PKI, walau sudah dibantah, telah membuka era baru hubungan pemerintah Indonesia dengan Republik Rakyat China (RRC). China mulai besar besaran memberi hutang 17,75 milyar tahun 2019, menggarap berbagai investasi proyek  di Indonesia sebesar 1,4 milyar dolar AS atau 20,4% dari seluruh investasi pada Kwartai IV/2019. Dari mulai proyek pertambangan emas, hingga proyek infrastruktur dan transportasi. Keceta api cepat Jakarta Bandung termasuk investasi RRC. China komunis ini, perlahan lahan mulai menancapkan kukunya di Indonesia, baik melalui bidang ekonomi, mapun politik dan kekuasaan, termasuk mengirimkan ribuan tenaga buruhnya.

Dalam bidang ekonomi ini selain RRC melakukan investasi langsung di Indonesia, juga dilakukan melalui para perantauan China yang tidak bisa dilepaskan dengan negara leluhurnya. Para perantau China yang sudah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) selama ini telah menguasai ekonomi dan pedagangan di Indonesia. Memang mereka umumnya tidak memperlihatkan ideologi Komunisme secara langsung. Apalagi sebagai WNI, selain beragam agama yang dipeluk, juga berbeda-beda pandangan politiknya. Walau demikian tidaklah mustahil pada sebagian diantara mereka berideologi Komunis.

Adapun pengembangan ideologi Komunis China melalui jalur politik, diantaranya dalam bentuk kerja sama dengan partai politik sekuler dan nasionalis. Satu satunya partai politik di Indonesia yang telah melakukan kerja sama dengan PKC adalah PDIP. Apalagi di dalam tubuh PDIP terdapat kader kader yang tetap berbangga diri terhadap PKI dan masih bersemangat menghidupkan kembali partai nenek moyangnya. Seperti dilakukan Ribka Ciptaning, Oneng dan lain lain. Termasuk Budiman Sujatmiko, yang pernah menjabat Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang berhaluan kiri atau Sosialis Komunis. Ia pun bergabung dalam PDIP dan duduk sebagai Komisaris PTPN V di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Karena kekuasaan seakan sudah ditangan mereka, di tambah dunia ekonomi dan perdagangan sebagian besar di bawah genggaman pengusaha China, mulai semakin kentara gerakan Komunisme yang dilakukan oleh anak keturunan PKI dan mantel mantelnya. Karakteristiknya antara lain, menghina agama dan ulama, melakukan isu pecah belah, islamophobia, adu domba membenturkan ulama satu dengan yang lain. Sudah ada pula ulama yang mengikuti irama gendang yang mereka tabuh, apalagi bila berkaitan dengan isi radikalisme. Padahal dalam sejarah, radikalisme dan terorisme di Indonesia justru dilakukan oleh orang orang berhaluan kiri atau Komunisme. Sudah terbukti, teror dan pemberontakan PKI Madiun 1948 dan G30S 1965.

Karena itu kewaspadaan ummat Islam tetap diperlukan terhadap banyaknya investasi dan proyek proyek China Komunis di Indonesia. Di samping penguasaan ekonomi dan perdagangan oleh pengusaha China WNI non Muslim. Terutama berkaitan dengan “penjajahan” dan “konsolidasi ideologi Komunisme” di Indonesia. Apalagi ada gerakan dan keinginan anak keturunan PKI yang kembali menghidupkan partai terlarang tersebut. Diantaranya, mereka menyatakan bahwa peristiwa G30S, PKI sebagai korban. Kemudian ikhtiar mereka melalui PDIP, memasukkan Rancangan Undang Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU-HIP).

Ternyata di dalam RUU HIP itu, konseptor mereka tidak memasukkan Tap MPRS-RI XXV/1966, tentang pelarangan PKI dan ideologi Komunisme di Indonesia. Bahkan mereka hendak merubah Pancasila (Lima Sila), menjadi Tri-sila (Tiga sila) dan Eka Sila (Satu sila), dan ujung ujungnya akan menghilangkan Sila Ketuhan Yang Maha Esa. Kemudian di dalam konsep Peta Pendidikan Indonesia 2035, mencoba menghilangkan kata “Agama”, dan menggantinya dengan kata “Budaya dan Akhlak”, padahal dalam UUD 1945, jelas tertulis kata Agama, yang berbeda dengan Budaya. ***

 Drs. H. Muhsin MK, M.Sc.

Comments

Archive