Cara Berpikir Kaum Atheis

 Rasulullah saw bersabda:

 

ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻖَ ﻛَﺬَﺍ؟ ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻖَ ﻛَﺬَﺍ؟ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘُﻮﻝَ : ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻖَ ﺭَﺑَّﻚَ؟ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺑَﻠَﻐَﻪُ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﻟْﻴَﻨْﺘَﻪِ

“Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian dan berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?’ Apabila setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah”. [HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra]

 

Atheis adalah istilah yang berasal dari kata Yunani (átheos), yang sering digunakan untuk menunjukkan mereka yang memiliki kepercayaan yang bertentangan dengan agama, atau bahkan kepercayaan yang mengakar di lingkungan mereka.

Atheisme adalah paham yang menyangkal sama sekali keberadaan Tuhan, karena keberadaan-Nya tidak dapat dibuktikan secara empiris ataupun logis.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, atheis adalah orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan.

Secara umum, atheisme adalah pandangan yang tidak mempercayai adanya Tuhan, atau menolak keberadaan Tuhan.

Bagi mereka yang menganut atheisme, keberadaan manusia di bumi tidaklah terjadi begitu saja.

Manusia ada di bumi karena proses metafisika dan alamiah yang terjadi secara berkesinambungan dan merupakan bagian dari alam semesta.

Atheis tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian. Atheis tidak percaya adanya akhirat. Sebab bagi mereka, manusia atau makhluk yang mati berarti proses metafisika dan alamiah mereka telah selesai.

 

Cara Berpikir Kaum Atheis

• Atheis sering menggunakan logika dan skeptisisme untuk membenarkan pemikiran mereka. Jika pola pikir kita menggunakan ayat-ayat Tuhan dan bahkan tidak masuk akal, sudah pasti kita akan menjadi sasaran atheis dalam diskusi.

• Atheis tidak percaya pada Tuhan dan agama. Tuhan dan agama yang ada untuk atheis saat ini adalah keajaiban dan absurditas yang luar biasa.

• Atheis mendiskriminasi dan tidak membedakan antara Tuhan dan agama. Atheis tidak mau menerima pendapat yang berhubungan dengan Tuhan dan agama. Tuhan dan agama adalah ciptaan manusia. Alam secara ajaib diciptakan tanpa diciptakan oleh Tuhan. Namun, jika pertanyaan terperinci diajukan tentang awal penciptaan alam semesta, atheis tidak dapat menjawabnya dengan jelas.

• Atheis percaya bahwa keberadaan mereka adalah bagian dari keberadaan alam semesta. Atheis kagum terhadap alam semesta yang luas ini, daripada percaya pada Tuhan dan agama.

• Ketika sampai pada asal pembentukan alam semesta yang sangat rumit, atheis sangat percaya bahwa tidak ada yang benar-benar menciptakan alam semesta. Atheis sangat skeptis tentang penciptaan dan asal-usul alam semesta sehingga ketika membahas alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan, pendapat ini ditolak sebagai klasik dan kuno.

• Atheis terus mencari pembenaran sampai akhir hidup mereka dan membawa keraguan yang tidak akan pernah padam.

 

             Ciri-Ciri Atheis :

1. Tidak Mengucap Syukur. Mereka akan berterima kasih kepada orang-orang yang telah memenuhi tugasnya dengan benar.

2. Tidak Percaya Takdir. Atheis berpikir bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak dapat dipisahkan dari hukum alam.

3. Pecaya Reinkarnansi. Meskipun atheis tidak percaya pada Tuhan dan keilahian, mereka percaya bahwa setelah kematian tidak hanya akan ada reinkarnasi makhluk hidup, tetapi bahwa seluruh alam semesta akan merasakannya juga.

4. Tidak Percaya Roh. Menurut mereka, kehidupan manusia akan benar-benar berakhir setelah kematian. Mereka tidak percaya pada kehidupan setelah mati.

5. Tidak Percaya Surga dan Neraka. Atheis tidak percaya adanya surga dan neraka. Menurut mereka, tidak akan ada penghakiman di surga atau neraka.

6. Tidak Percaya Hal Ghaib. Atheis akan menggunakan semua logika mereka untuk melihat dunia ini. Secara logika, mereka tidak percaya pada hal-hal yang tak terlihat. Mereka juga tidak percaya pada ritual keagamaan.

7. Tidak Percaya Nabi. Seorang atheis mengklaim bahwa ia tidak dapat menerima konsep nabi. Menurutnya, sangat tidak masuk akal jika nabi Timur Tengah dipilih untuk menjadi kepala seluruh umat manusia.

8. Tidak Percaya Konsep Kekal Abadi. Konsep kehidupan kekal setelah kematian tidak ada untuk mereka. Banyak dari mereka mengatakan bahwa hidup akan benar-benar berakhir setelah orang mati. Jadi orang berikutnya akan mengalami reinkarnasi.

9. Bahagia Tergantung Dengan Lingkungan. Atheis berkeyakinan bahwa bahagia atau sedih tergantung pada hubungannya dengan sesama manusia.

 

Renungan bagi Atheis

Bagi mereka yang menyatakan bahwasanya Allah itu tidak ada atau tidak ada Tuhan yang menciptakan alam semesta ini, mari kita renungkan sedikit saja. Renungan singkat yang menyatakan bahwasanya Allah itu ada dan ini merupakan fitrah manusia dan sebenarnya adalah hati nurani manusia.

Manusia secara fitrah butuh terhadap Allah yang Maha Menciptakan. Allah swt yang telah menciptakan manusia dengan fitrah ini, Allah berfirman, “(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” [Ar-Rum: 30]

Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan fitrah ini dan bahkan cinta terhadap fitrah ini. Beliau berkata, “Semua hukum syariat secara dzahir dan batin, telah Allah letakkan ke dalam hati manusia dan hati mereka akan cenderang pada fitrah ini. Allah memasukkan rasa cinta akan kebenaran”. [Lihat Tafsir As-Sa’diy]

Kita kisahkan sedikit bahwa ada seseorang yang pernah bercerita yakni ada kejadian bahwa ia pernah menaiki sebuah pesawat, di pesawat tersebut duduk di sebelah kirinya seseorang yang beragama Nasrani dan duduk di sebelah kanannya seorang atheis. Suatu ketika pesawat tersebut berguncang dengan dahsyat. Pilot pun mengumumkan bahwa cuaca sedang buruk dan ada kemungkinan pesawat akan melakukan pendaratan darurat. Yang beragama Islam berdoa kepada Allah dan ia melihat temannya di sebelah yang beragama Nasrani pun berdoa. Ia pun melihat teman sebelahnya lagi yang atheis hanya bisa pasrah dan terlihat binggung. 

Setelah sekian lama pesawat kembali tenang dan cuaca kembali baik. Orang atheis itu berkata, “aku melihat kalian berdoa dan kalian bisa merasa sedikit tenang sedangkan aku bingung berdoa kepada siapa, aku tidak tahu kepada siapa aku berharap di saat-saat seperti ini“.

Mari renungkanlah kisah ini bahwasanya fitrah manusia butuh kepada Penguasa semesta alam. Ada saat-saat tertentu manusia tidak kuasa lagi, manusia sudah tidak bisa saling mengandalkan. Sebagaimana ketika terjadi gempa bumi yang dahsyat, saat itu siapa pun akan butuh kepada yang Maha Kuasa. Ketika tanah bergoyang dahsyat, siapapun saat itu langsung mengingat Allah, bahkan yang tidak pernah mengenal Allah sebelumnya, saat terjadi gempa, mereka tiba-tiba langsung ingat Allah dan keluar dari lisan mereka “astagfirullah, subhanallah”. Mereka kembali ke fitrahnya. 

Sebenarnya masih banyak dalil-dalil yang lainnya secara logika dan nash yang menunjukkan adanya Allah Sang Pencipta alam beserta seluruh isinya. Wallahu a’lam. (Abu Ahmad)

Comments

Archive