MENGENAL SYI’AH : SHAHABAT NABI SAW DALAM PANDANGAN SYI’AH


SHAHABAT NABI SAW DALAM PANDANGAN SYI’AH

Setiap para Nabi mempunyai pengikut dan pendukung setia tentu orang-orang pilihan dan generasi terbaik dari umat Nabi tersebut atau yang kita kenal dengan shahabat. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw :

“…Tidaklah ada seorang Nabi-pun yang diutus kepada suatu umat sebelumku, kecuali mempunyai para pendamping dan shahabat setia, yang senantiasa mengikuti ajarannya dan berpedoman dengan perintahnya. Sepeninggal mereka, datanglah suatu generasi yang biasa mengatakan sesuatu yang mereka tidak perbuat, serta melakukan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan.” (HR.Muslim)

Akan tetapi lain halnya dengan Syi’ah, hal ini bias kita perhatikan dalam riwayat-riwayat versi mereka.

Dari Sudair, ia riwayatkan dari Abi ja’far dan berkata : sepeninggal Nabi saw seluruh manusia murtad selama satu tahun, kecuali tiga orang. As-Sudair bertanya, siapa yang dimaksud tiga orang tersebut? Ia menjawab, al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi, lalu beliau berkata, Mereka itulah orang-orang yang tetap kokoh dengan pendiriannya dan menolak membai’at (Abu Bakar pen), hingga didatangkan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib pen.)…” (lihat al-Majlisi Biharu al-Anwar 22/351 dan Tafsir Nur Ats-Tsaqalain 1/396)
Syaikh al-Mufid juga meriwayatkan dalamAl-Ikhtishash hal. 6;
“..Seluruh manusia menjadi murtad sepeninggal Nabi saw. Kecuali tiga orang, al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi. Setelah itu manusia menyadari, dan kembali masuk Islam.

Dalam riwayat lain, mereka menambah jumlah yang tetap dalam ke-Islamannya menjadi empat.

“…Sesungguhnya ketika Rasulullah saw meninggal dunia, seluruh manusia kembali kepada kehidupan jahiliyyah, kecuali empat orang saja, (yaitu) Ali, al-Miqdad, Salman dan Abu Dzar. (lihat al-Majlisi dalam Baharu al-Anwar 22/333

Jika demikian, tentu yang jadi pertanyaan kita adalah bagaimana dengan ke-Islaman Fathimah, Hasan serta Husain?

Syi’ah mempropagandakan sebagai pecinta ahlul-bait dan pembela mereka, akan tetapi faktanya mereka secara tidak sadar (atau mungkin sadar) telah menghinakan ahlul-bait.
Keterangan diatas, menjadi alasan bagi Imam Amir bin Syurahil asy-Sya’bi untuk berkomentar tentang sekte Syi’ah, “Kaum Yahudi dan Nasrani mempunyai satu kelebihan bila dibandingkan dengan agama Syi’ah. Bila ditanyakan kepada Yahudi, siapakah orang terbaik dari penganut agamamu? Mereka tentu akan menjawab, Tentu para shahabat Nabi Musa. Dan bila ditanyakan kepada Nasrani, siapa yang terbaik dari penganut agamamu? Tentu mereka akan menjawab, Tentu para sahabat sekaligus pengikut setia Nabi Isa. AKAN TETAPI, jika ditanyakan kepada Rafidhah (Syi’ah), Siapakah yang terjelek dari penganut agamamu? Niscaya mereka jawab, Tentu para sahabat sekaligus pengikut setia Nabi Muhammad”.

Berikut ini merupakan diantara bentuk penghinaan kepada para shahabat:
“…Kita harus membersihkan diri dari berhala yang empat (yaitu), Abu Bakar, Umar, Usman dan Mu’awiyah. Dan berhala wanita yang empat pula (yaitu), Aisyah, Hafsah, Hindun dan Umi Hakam. Serta seluruh pengikutnya, mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk dipermukaan bumi. Tidak sempurna iman seseorang kepada Allah dan Rasul serta Imam-Imam, kecuali melepeaskan/membersihkan diri dari musuh-musuh tersebut”. (Muhammad Baqir al-Majlasi, Haqqul Yakin halaman 519)

Riwayat Abu Hamzah at-Tamali (al-Majlasi hal 522), saat bertanya kepada Imam Zainal Abidin tentang Abu Bakar dan Umar, ia menjawab : “Keduanya adalah kafir dan siapa yang mengangkatnya jadi khalifah juga kafir…”

Dan banyak lagi ungkapan-ungkapan penghinaaan yang dialamatkan kepada para shahabat, termasuk para istri Nabi saw.***




Comments

Archive