Khutbah Idul Fitri 1442 H | Tangis Melepas Ramadhan
Berikut ini adalah Naskah Khutbah Idul Fitri 1442 H yang kami kutip dari Buletin :
اللهُ أكبر الله أكبر الله أكبر
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كثيرا وسبحان الله
بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ
للهِ اْلحَمْدُ
اللهُ أكبر
وَلَا نَعْبُدُ اِلَّا اِياهُ مُخلِصِينَ لَهُ الدِّين وَلَو كَرِهَا الكَافِرُون,
وَلَو كَرِهَاالمُشْرِكُون, وَلَو كَرِهَا المُناَفِقُون
Suara takbir bertalu-talu
menggelora di langit
pagi tanggal 1 Syawal ini. Gemanya memantul di bukit, lembah di desa-desa dan di tembok gedung-gedung perkotaan. Frekwensi ilahiahnya menggetarkan dawai
kalbu di dada
orang-orang beriman.
Takbir adalah pekik kemenangan yang
mengguncang menciutkan nyali kaum kafirin, kaum musyrikin dan kaum
munafiqin. Nabi Muhammad saw mengerahkan
kaum muslimin di hari raya Idul Fitri ke tanah lapang, termasuk wanita-wanita yang sedang berhalangan. Dan dianjurkan untuk
mengambil jalan pulang yang berbeda dari jalan berangkat. Agar orang-orang yang membenci Islam menyaksikan barisan umat beriman
berduyun-duyun
dengan gagah melewati rumah-rumah mereka.
Namun di balik
kegembiraan setelah menyelesaikan ibadah satu bulan, terselip rasa sedih
ditinggal pergi bulan mulia ini. Memang manusia biasanya menyesal ketika suatu
perkara yang tadinya dianggap biasa tiba-tiba hilang. Suami
atau isteri yang sering kita anggap menjengkelkan, yang kadang-
kadang kita ajak bertengkar untuk hal-hal sepele, baru
teringat segala kebaikannya setelah dia tiada lagi.
Setelah covid19 merenggut pasangan hidup
dari sisi kita. Atau almarhum ayah ibu kita, yang dulu sering kita anggap
rewel, cerewet, terlalu mendikte. Ibu yang dengan firasat tajamnya menasehati:
“Nak, jangan bergaul terlalu akrab dengan temanmu yang itu “, kita melawan
sampai ibu mengelus dada. Atau waktu kita lelah kecapaian merawat mereka di hari
tuanya, sesekali pernah kita bentak sampai mereka terdiam dan wajah mereka
tertunduk. Baru kita merasa hampa dan menangis di hari-hari raya
yang sepi setelah mereka wafat. Apalagi mudik dilarang. Kita kehilangan nikmatnya
sungkem mohon maaf dipangkuan mereka. Tidak lagi merasakan belaian tangan
keriput mereka di ubun-ubun. Atau mungkin setelah mereka wafat, ekonomi kita
semakin mapan, namun
tidak bisa lagi membahagiakan mereka secara materiil. Tidak bisa memberi seperangkat
kain batik dan kebaya buat ibu tercinta. Sepatu, sarung dan kopeah baru buat
ayah. Tidak bisa lagi membawa oleh-oleh sepulang dinas keluar kota. Menyesal.
Kenapa waktu mereka masih hidup kita tidak habis-habisan
berbakti. Begitu juga hari-hari dan
malam-malam Ramadhan. Kadang baru kita sadari nikmatnya setelah berlalu.
Sebagaimana digambarkan dalam sabda Rasulullah saw:
اِغْتَنِم خَمْسَا قَبْلَ خَمْسَ
: شَباَبِكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَتِكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِنَاكَ قَبْلَ
فَقْرِكَ ، وَفِرَاغِكَ قَبْلَ شُغْلِكَ ، وَحَيَاتُكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Jagalah olehmu lima perkara sebelum
datang lima perkara yang lainnya, jaga masa mudamu sebelum tuamu, jaga masa
sehatmu sebelum datang waktu sakit, jaga masa kayamu sebelum jatuh miskin, jaga
masa lapangmu sebelum sempit, dan jaga masa hidupmu sebelum datang kematian”. (HR.
Al-Hakim)
اللهُ
أكبر الله أكبر الله أكبر
Selama
bulan Ramadhan yang baru kita tinggalkan, sebenarnya terbuka kesempatan
menikmati hal hal indah, seperti yang
disampaikan oleh Rasulullah saw:
يآ أَيُهاَ النَّاس قَدْ أَظَلّكُم
شَهْرٌ عَظِيمٌ شَهْر فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ
صِيَامُهث فَرِيْضَةً وَ قِيَامُ لَيَلِهِ
تَطَوُعًا ، وَ مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كاَنَ كَمَنْ
أَدَّى فَرِيضَةً فِيماَ سِوَاهُ ، وَ َمنْ أَدَّى فَرِيضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى
سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيماَ سِواَهُ
“Wahai manusia, sungguh bulan yang
agung telah mendatangi kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik
dari 1.000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah
kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai ibadah tathawwu’ (sunnah).
Barangsiapa pada bulan itu mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu
kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain.
Barangsiapa mengerjakan satu amalan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 amalan
wajib di bulan yang lain”. (HR. Ibnu Khuzaimah)
Semua itu berlangsung dari hari ke hari
tanpa serius menyadarinya. Kita hanya menjalani ibadah di bulan Ramadhan
sebagai rutinitas belaka. Sampai tiba-tiba bulan agung
itu lenyap meninggalkan kita yang tersentak dan bergumam: “Kenapa cepat amat
engkau berlalu”. Dan barulah muncul rasa
menyesal yang dalam. Serasa ditimpa
musibah. Sebagaimana sabda baginda Rasulullah saw:
إذَا كَانَ َاخِرُ لَيْلَةٍ مِنْ
رَمَضَانَ بَكَتِ السَّمَوَاتُ وَاْلاَرْضُ مُصِيْبَةً لِاُمَّةِ مُحَمَّدٍ قِيْلَ
اَيُّ مُصِيْبَةٍ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسل هِيَ ذَهَابُ رَمَضَانَ
لِاَنَّ الدَّعْوَاتِ فِيْهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالصَّدَاقَةً مَقْبُوْلَةٌ
“Ketika tiba malam terakhir Ramadhan, menangislah langit
dan bumi. Musibah telah datang bagi Umat
Muhammad.” Seorang sahabat bertanya, “Apakah musibah itu, ya Rasulullah?” Nabi
menjawab: “Ramadhan telah pergi, sedangkan doa-doa
di dalamnya diijabah, dan shadaqah
di dalamnya diterima.” (Diriwayatkan
dari Jarir.r.a).
Dalam bulan Ramadhan segala doa
mustajab, shadaqah makbul, segala kebajikan digandakan pahalanya, maka
adakah musibah yang terlebih besar perginya Ramadhan?
Maka ketika para sahabat memasuki detik-detik akhir penghujung Ramadhan, air
mata mereka menetes. Hati mereka sedih. Betapa tidak. Bulan yang penuh
keberkahan dan keridhaan Allah itu akan segera pergi meninggalkan mereka. Bulan
di mana
orang-orang berpuasa di siang
hari dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah. Bulan yang Allah bukakan
pintu-pintu surga, Dia tutup pintu-pintu neraka, dan Dia belenggu setan. Bulan
yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan
dari api neraka. Bulan ketika napas-napas orang yang berpuasa lebih harum di
sisi Allah daripada minyak kesturi. Bulan ketika Allah setiap malamnya
membebaskan ratusan ribu orang yang seharusnya masuk neraka. Para sahabat
menangis karena merasa belum banyak mengambil manfaat dari Ramadhan. Mereka
sedih karena khawatir amalan-amalan mereka tidak diterima dan dosa-dosa mereka
belum dihapuskan. Mereka berduka karena boleh jadi mereka tidak akan bertemu
lagi bulan Ramadhan yang akan datang. Sedih karena takut, jangan-jangan
termasuk golongan yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga belaka selama
menjalani bulan Ramadhan.
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ
لِلّٰهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan selalu mengamalkannya,
maka Allah Ta’ala tidak butuh kepada puasanya.” (HR. Al-Bukhari)
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ
مِنَ اللَّغْوِ وَالَّرَفَث
“Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makanan dan minuman,
tetapi puasa adalah menjauhi perkara yang sia-sia dan kata-kata kotor.” (HR. Ibnu Khuzaimah)
رُبَّ صَاىِٔمٍ
حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ
“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak
mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu
Majah)
Kita cemas,
jangan-jangan
kita belum menjaga sungguh-sungguh ucapan
dan perbuatan buruk itu. Jangan-jangan kita
termasuk orang yang tidak mendapat apa-apa selama bulan
Ramadhan kecuali lapar dan dahaga.
Bahkan itupun mungkin tidak. Karena bagi kita orang dewasa yang bekerja
di ruang
kantor yang nyaman, pulang pergi naik mobil ber AC, maka meski berpuasa, lapar
dan dahaga pun tidak dialami lagi. Jadi betul-betul
tidak mendapat apa-apa selama Ramadhan.
Imam Mu’alla bin Al-Fadhl berkata,
“Dahulu para ulama senantiasa berdoa kepada Allah selama enam bulan agar
dipertemukan dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan
agar diterima amal ibadah mereka selama Ramadhan.” Padahal para salafushshalih
itu sudah bersungguh-sungguh menghabiskan waktu-waktu mereka dengan ibadah di
bulan Ramadhan.
Bagaimana dengan kita? Adakah kesedihan
itu hadir di hati kita di kala Ramadhan meninggalkan kita? Qotâdah pernah
berkata: “Barangsiapa yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka besar
kemungkinan ia takkan diampuni di selain bulan Ramadhan.” (Lathâ’if
al-Ma’ârif).
اللهُ أكبر الله أكبر الله أكبر
Kalau
mengingat itu maka rasanya kita ingin Ramadhan berlangsung terus menerus.
Sebagaimana Rasul saw. bersabda:
لو تعلم أمتي ما
في رمضان من الخير, لتمنّت أن تكون السنة كلها رمضان
“Sekiranya
umatku ini mengetahui apa-apa (kebaikan) di dalam bulan Ramadhan, niscaya
mereka menginginkan agar semua tahun menjadi Ramadhan.” (HR.
Ibnu Abbas)
Bukankah
pernah Nabi saw bersabda:
إذا جاءَ
رَمَضانُ فُتِّحَتْ أبْوابُ الجَنَّةِ، وغُلِّقَتْ أبْوابُ النَّارِ، وصُفِّدَتِ
الشَّياطِينُ
“Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Muslim)
Wajar saja kita merasa
khawatir dengan perginya Ramadhan, karena akan tertutuplah pintu surga, maknanya ialah akan
lebih sulit melakukan ibadah-ibadah, lebih sulit mengumpulkan pahala seperti di bulan Ramadhan.
Terbuka lagi pintu neraka, artinya akan lebih mudah melakukan dosa bermaksiat.
Dilepasnya belenggu setan-setan, artinya godaan akan lebih banyak dihadapi. Mereka akan
bergentayangan lagi untuk menjerumuskan kita ke lobang jebakan yang mengepung
di mana-mana.
Pantaslah langit dan bumi menangis.
Memang telah fajar merekah di 1 Syawal dengan indah. Mentari
menyapa ramah di ufuk Timur. Angin bertiup sepoi-sepoi. Pepohonan bergoyang manja.
Bunga bunga tersenyum mekar mewangi. Ya, alam fisik tetap tampil mempesona di
bumi Nusantara ini. Tetapi pada dimensi ruhaniah, atmosfir spiritual masih
terasa suram-temaram. Musibah
bukan hanya gempa bumi dan tenggelamnya kapal selam. Itu masih musibah fisik
materiil. Padahal musibah keruhanian masih menimpa bangsa ini. Awan hitam gelap
kedzaliman masih menggelayut. Ketidak adilan masih menyesakkan dada.
Kesewenang-wenangan bertambah parah. Keserakahan semakin menjadi-jadi. Dusta,
bohong, pemutarbalikan fakta menjadi menu sehari-hari. Di saat para perampok uang negara bebas
melaju tanpa sanksi, para penyeru kebenaran malah dipersekusi. Menghina agama
Islam dianggap hak asasi kebebasan berekspresi. Yang membela Islam disebut
Kadrun (Kadal Gurun) oleh para buzzer bayaran. Padahal kita mendambakan anak
cucu yang saleh yang taat menjalankan syariat, yang mendoakan kita setelah kita
meninggal dunia. Tetapi kita gamang dengan suasana anti agama masa kini.
Generasi muda diracuni dengan hedonisme, cita-cita mereka hanya kemewahan duniawi yang
dipamerkan secara vulgar oleh para selebritis. Generasi penerus itu sedang
mengalami disorientasi, kehilangan tauladan, ketika para pemimpin mencontohkan
kepalsuan, sikap tidak konsisten, tidak istiqamah. Ditambah lagi arah kebijakan
pendidikan nasional diganggu terus oleh usaha jahat ingin menghilangkan ajaran
agama dari kurikulum, dengan alasan mencegah radikalisasi siswa. Dan semua itu
berlangsung ketika wabah covid masih meroyak dan hutang menggunung. Sungguh
rasanya ingin kembali ke zona nyaman di bulan Ramadhan saja. Berdzikir, beriktikaf, bertadarus Al-Qur’an.
Tetapi Allah memerintahkan kita untuk tetap sabar. Tetap berlayar menerjang
gelombang menempuh badai. Berpirau melawan arus. Tetap berusaha merubah keadaan
dengan tangan, dengan mulut atau dengan hati. Agar memenuhi syarat untuk
datangnya pertolongan Allah dan kemenangan seperti dalam surat An-Nashr:
إِذَا جَاءَ
نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ
أَفْوَاجًا
فَسَبِّحْ
بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
Doa Penutup:
Mari kita beristighfar dan berdoa
memohon semua kebaikan dan dihindarkan dari segala keburukan di depan
kita, dan memohon pertolongan Allah ketika harus menghadapi dan mengalahkan
tantangan yang menghadang .
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لنا دِينِنَا
الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا، وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا
مَعَاشنا، وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادِنا، وَاجْعَلِ الحَيَاة
زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةًلنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْورنا آخِرَهُ وَخَيْرَ عَمَلنا
خَوَاتِمَهُ وَخَيْرَ أَيَّامِنا يَوْمَ نلْقَاكَ *
اللَّهُمَّ إنانسْأَلُكَ عِيشَةً
هَنِيَّةً وَمِيتَةً سَوِيَّةً وَمَرَدًّا غَيْرَ مُخْزٍ وَلاَ فَاضِحٍ *
اللَّهُمَّ إِنِّا أَسْأَلُكَ
مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمِ مَغْفِرَتِكَ وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ
وَالغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالفَوْزَ بِالجَنَّةِ وَالنَّجَاةَ مِنَ
النَّارِ *
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا
فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ *
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ
خَشْيَتِكَ مَاتَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ
مَاتُبَلِّغُنَا بِهَا جَنَّتَكَ وَمِنَ اليَقِينِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا
مَصَائِبَ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا
مَاأَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ
ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا
وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا *
اللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا
ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ وَلَا هَمَّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ وَلَا دَيْنًا إِلَّا
قَضَيْتَهُ وَلَا حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلَّا
قَضَيْتَهَا يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ *
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى
سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ
وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيراً

Comments